Diperbandingkan

Semenjak kecil saya gak pernah diperbanding-bandingkan karena memang saya berangkat dari sebuah keluarga kecil yang isinya cuma 4 orang yakni Bapak, Ibu, Saya dan Adik saya. Saya dan adik saya cuma terpaut sekitar 1,5 tahun jadi besar badan dan umur kami mirip. Tidak pernah sekalipun orang tua kami membandingkan-bandingkan kekurangan dan kelebihan kami.

Ketika beranjak dewasa, saya pun akhirnya harus menghadapi kenyataan bahwa hidup kita harus senantiasa diperbandingkan, mulai dari urutan rangking di kelas, jabatan di kantor, bahkan ilmu keuangan yang saya pelajari selalu memperbandingkan suatu corporate action dilihat dari berbagai sisi (diperbandingkan juga toh).

Sudah 1 semester ini sebetulnya saya merasa ada yang salah dengan nilai-nilai yang saya dapat dalam periode matrikulasi perkuliah saya, yap, terlalu banyak nilai B nya. Dari 7 mata kuliah hanya ada satu nilai A, itu pun A minus.

Hal ini kemudian berlanjut begitu hasil semester 1 keluar, lagi-lagi nilai B menghiasi Sintesis saya, dari 4 mata kuliah, hanya ada 1 nilai A, dan lagi-lagi A minus.

Belajar dari hal itu saya mencoba menginstrospeksi diri, apa yang kurang dengan apa yang sudah saya jalani 2 semester ini, ada beberapa kekurangan yang dapat saya coba simpulkan:

1. Belajar saya ngga terlalu serius, buku sekedar saya baca, tapi saya gak mencoba belajar untuk menceritakan kembali isi buku tersebut, dan ini menjadi masalah ketika ujian tiba. Perkuliahan S2 tidak sama dengan ketika kita S1, dimana soal ujian banyak berbentuk pertanyaan-pertanyaan yang memaksa kita menceritakan kembali isi buku teks beserta pendapat kita mengenai hal itu, ini yang tidak saya sadari sebelumnya. Setiap menjawab soal, saya selalu menjawab inti-intinya saja, mungkin tidak salah, tapi kurang tepat di mata Dosen.

2. Tulisan tangan saya yang jelek minta ampun. Seperti yang saya sampaikan di atas, menjawab soal essay mau tidak mau harus ditulis panjang lebar. Walaupun saya menjawab dengan panjang lebar (instead of inti-intinya saja) tetap saja rasanya Dosen akan malas membaca tulisan saya. Nah, ini saya rasa yang menjadi penyebab kedua nilai B begitu banyak menghiasi sintesis saya.

Nilai B memang tidak buruk kawan, tapi karena saya menempuh pendidikan S2 ini dengan memanfaatkan beasiswa dari tempat saya bekerja, nilai IPK 3,15 tidak cukup untuk menghindari saya dari punishment harus membayar 40% dari total SPP. Mungkin saya berpikir terlalu picik, saya tidak ikhlas harus membayar 40% x Rp 75 juta = Rp 30 juta, tapi kewajiban saya kepada perusahaan tetap dihitung sama tanpa ada pengurangan apapun. Apalagi saya tahu bahwa saya bisa lebih dari sekedar nilai B.

Di tengah kegalauan ini, seorang teman baik saya berkata kurang lebih seperti ini “Mungkin loe menjawabnya kurang panjang lebar, kalau dibandingin sama X dan Y gue yakin loe lebih pinter kok”

Lagi-lagi saya harus menghadapi kenyataan hidup bahwa perbandingan-perbandingan akan selalu ada. Masalahnya adalah, ketika teman saya berkata seperti itu, kenyataan bahwa saya merasa malu diperbandingkan dengan X dan Y yang semata-mata karena X dan Y sepanjang sepengetahuan saya adalah teman yang kuliahnya asal datang. Saya jadi merasa bahwa sepontang-panting saya belajar ya kemampuan saya memang cuma dinilai segitunya🙂 [Orang berhak bilang apa aja… dont be sad ya…. ]

Mudah-mudahan sie saya sedang mengalami fase dimana yang pernah dikatakan teman yang lain, “Belajar itu kepuasannya seperti kita ejakulasi” . Saya belum sampai pada tahap itu, tapi saya telah merasakan bahwa diperbandingkan itu tidak enak, apalagi kalau benchmarkingnya yang kita tahu bahwa kita tidak kalah dengan mereka.

So, saya berjanji pada diri saya sendiri bahwa saya akan memaksa diri saya sampai pada titik maksimal, we’ll see di 3 semester yang sedang berjalan dan yang akan datang. Apakah saya akan merasakan ejakulasi kenikmatan belajar pada sisa 3 semester ini atau lagi-lagi harus kalah dari X dan Y heheheheh (tertawa miris).

-bierkof-

 

About sekarungcerita

5 orang dengan latar belakang yang berbeda tapi ternyata mempunyai kesamaan yang lumayan banyak
This entry was posted in Galau and tagged . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s