Si Kecil Yang Terluka

Kamu kecil, hitam, ringkih…jelek menurutku, beratmu hanya beberapa kilogram.

Jujur, perlu waktu bagiku untuk dapat menerima kehadiranmu, makhluk baru dirumahku. Wajar toh, kamu akan menjadi bagian selamanya dari hidupku, dan aku akan berusaha menyayangi selamanya, tapi aku perlu waktu.

Kamu hadir disertai dengan banyak polemik yang menyertai hidup ibumu,dan dia berusaha menghadapinya sendiri, tapi tentu saja dia perlu bantuan untuk menjagamu. Pilihannya jatuh ke siapa lagi?

Aku tentunya. Aku ingat berpikir dalam hati, merasa terbebani dan belum siap. Aku merasa seperti seorang lajang yang dipaksa berkeluarga terlalu cepat beberapa tahun, dan diam-diam menjeritkan protes: “Hey, ini bukan tanggung jawabku, aku tidak memilih hal ini, ibumu yang memilihnya, kenapa aku harus ikut bertanggung jawab?”

Tapi aku terus menjalaninya, dalam diam, karena kamu keluarga, ibumu keluargaku juga dan ikatan keluarga itu rumit, hubungan cinta dan benci serta ikatan darah yang begitu kental, sulit dipisahkan oleh apapun di dunia ini, betapapun menyakitkan dan menyedihkannya.
Rutinitasku sedikit berubah, ada tambahan hal-hal yang harus kulakukan. Aku menjadi ahli melakukan hal-hal yang seharusnya aku belum harus ahli melakukan. Semacam suami. Aku menjadi ahli membuat susu, mengganti popok, bangun tengah malam sampai dini hari untuk mengayunmu hingga tidur.

Rutinitas itu kujalani awalnya dengan berat hati..lelah karena menjagamu tidak mudah. Tapi lalu aku jatuh cinta. Senyummu di pagi hari, matamu yang pelan-pelan membuka, suara mendengkurmu yang pelan, helaan napas yang ringkih, empuknya pipi dan bau badanmu yang menyisakan jejak surga yang baru saja menurunkanmu. Anehnya, menjagamu membuatku lelah, namun juga sesuatu yang menghilangkan lelahku.

Lalu, seakan belum cukup polemik yang menyertai kehadiranmu, semesta memutuskan untuk menambah satu lagi. Kamu masih terlalu kecil, yang kamu tahu hanya kamu merasa sakit setiap kali kamu menelungkupkan badan. Perubahan pertama terjadi ketika kamu menjadi semakin putih, pucat dan warna-warna hidup seakan menghilang dari dirimu.

Dan oh..para dokter itu, berbagai opini, berbagai solusi, seakan menambah kecamuk pikiran kami. Tumor atau Hematoma, kata mereka. Semacam kanker.

Diagnosis itu bagaikan firasat. Kamu tahu, sayang, bagaimana firasat itu? Sesuatu yang kamu tahu akan terjadi dan kamu sudah merasakan ada yang salah, hanya saja kamu menekan kekhawatiran itu dalam-dalam di hatimu, menumpuknya dengan pikiran-pikiran lain di otakmu, dan ketika itu benar terjadi, kesadaran akan peristiwa sama menyakitkannya, sama mengejutkannya, tapi sebenarnya kamu sudah tahu hal ini akan datang.
Ironisnya sayang… di saat aku mulai jatuh hati padamu. Tepat saat hatiku tertambat. Kamu mengancam pergi dari hidupku. Memang hidup tak mau tahu, dia terus saja memuntahkan kejadian-kejadian dan kamu tidak memiliki pilihan kecuali menjalaninya.

Selang-selang kehidupan itu disambungkan ke badanmu untuk menopang nyawamu. Aku hanya bisa menggendongmu, terkadang, dengan posisi yang aneh, menyesuaikan diri agar selang-selang itu tidak terlepas.

Kamu berjuang untuk hidup. Kamu demam, mimisan, muntah, dan diberikan cobaan yang jauh melebihi usiamu. Kamu menangis menjerit kesakitan sampai diam terkulai karena lelah melawannya. Kamu disekap dalam ruangan intensif itu. Aku masih ingat ruanganmu, putih, steril, berbau alkohol, dan diudara seakan mengambang bau kematian.

Sulit rasanya pulang kerumah dan meninggalkanmu sendirian disana, lalu kami memutuskan untuk menungguimu di rumah sakit itu. Ruang tunggu itu berukuran sedang, tanpa sekat dan semua orang boleh menunggu bersama-sama disana. Kami, para orangtua dan keluarga, berusaha membohongi diri sendiri: membuat diri merasa senyaman mungkin. Kami membawa kasur, bantal, buku cerita, makanan, menonton tv, berusaha mengobrol, tapi dengan kegetiran yang terasa begitu nyata dalam suara kami.

Waktu untuk bertemu dirimu dua kali dalam sehari: siang dan sore. Ketika waktu itu tiba, ibumu bertindak seperti akan bertemu pacar. Dia mandi sebersih mungkin agar kamu tetap steril, membawa hadiah untukmu, entah mainan atau buku cerita baru. Dia menggantungkan mainan diatas tempat tidur, menyisipkan berbagai kitab dan cetakan lembaran doa dibawah bantalmu, menyanyi untuk dirimu, membacakan buku cerita, terus menerus bercerita pada dirimu. Apapun untuk membuatmu ceria dan….. somehow untuk memberikan harapan kediri kami.
Di dalam ruangan itu, pandangan kami dengan gugup bolak balik berganti antara “monitor-monitor nyawa”, dengan kertas-kertas hasil laboratoriummu dan tatapan matamu yang sarat makna.
Hampir dua bulan penantian kami dan jujur, mau gila rasanya diriku, sayang…

Tapi ibumu memang sosok yang tegar. Segala cobaan itu dia serap, dia telan lalu dia hadapi bagaikan batu karang. Dia yakin di matamu ada sorot yang menyatakan kamu ingin hidup.
“Ayo keluarkan monster jahat yang ada dalam perutmu” kata dokter itu. Persentasenya hanya 40%, tapi kalau tidak diangkat menjadi hanya 20%. Jika kata Galileo, matematika adalah bahasa untuk menuliskan alam semesta. Saat itu bagiku matematika adalah penentu kehidupan, akankah aku menggenggam tangan mungilmu lagi atau tidak selamanya.

Aku teringat ibumu melepasmu masuk ruang operasi sendirian dengan tabah. Entah bagaimana perasaannya. Tak henti-hentinya dia mengaji menungguimu. Awalnya aku menungguimu, tapi 12 jam itu terasa menyiksa, aku tak tahan, lalu aku melarikan diri, ke kantor, menenggelamkan diri dalam pekerjaan.

Kabar baik itu datang melalui sms: “Operasinya berhasil! Dia akan baik-baik saja”

Kamu selamat! Warna-warna kehidupan kembali membiaskan dirinya ke tubuhmu, terutama ke bibir kecilmu yang perlahan berubah dari putih menjadi memerah kembali.

Kami membawamu pulang ke rumah dan takjub melihat kesembuhanmu. Kamu semakin besar, semakin panjang dan pipimu semakin bulat. Kamu kuat berlari-lari mengelilingi rumah puluhan kali.

Sudah tiga tahun usiamu dan tunggu ya sayang, nanti setelah lima tahun, penyakit itu dinyatakan resmi meninggalkanmu.
Yang pasti aku sayang kamu… dan selamanya aku tidak akan melupakan perjuanganmu untuk hidup, serta ketegaran ibumu yang diam-diam kukagumi.

Sekarang, kalau aku balik bertanya padamu “Apakah kamu sayang aku?”.

Kamu menolehkan kepala, menyunggingkan senyum simpul dan berkata “Iya dong, tante!”

-Rei. 13 November 2011-

About sekarungcerita

5 orang dengan latar belakang yang berbeda tapi ternyata mempunyai kesamaan yang lumayan banyak
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s