A Life and Frappuccino

sambil menyeruput segelas susu rasa kopi bermerk terkenal dengan motto “rendah kalori”nya, saya teringat topik menarik kawan-kawan sekarung cerita pagi ini. menarik, dan membuat galau sedikit..

It’s about choosing a friend for life.

Tentang kisah beberapa wanita yang merasa mirip kisahnya, tentang Saya, tentang Rei, atau tentang kalian, mungkin saja..🙂

Tentang segelas wine yang membawa kenikmatan, dan segelas air putih yang hanya menghilangkan dahaga.

Tentang seorang sahabat, atau tentang pria yang melabuhkan perasaannya, dan tentang orang lain yang terlalu biasa untuk dicintai.

Tentang sahabat yang baik dan selalu berkorban, dan tentang orang lain yang yang bahkan, tidak melihat kita ada.

Tentang sahabat yang selalu memberi rasa manis dan segar seperti segelas wine dingin, dan tentang lelaki yang membuat nyaman tiap obrolan walau dalam sunyi.

Saat seorang teman berkata “What do you want exactly? You’ve got glasses of wine if you want to!”

Pertanyaan yang bisa menyekat dan membuat sesak napas.

“I don’t know exactly what I want..”

Namun saat itu saya hanya ingin segelas air dingin untuk tenggorokan yang terasa sedikit tercekat.
Segelas air untuk menggerus pikiran-pikiran kekhawatiran tentang asumsi masyarakat “pentingnya memiliki pasangan di umur 26-an”.

Ya, saya ingin segelas air dingin.

Lalu Rei keluar topik. Tiba-tiba, tanpa dinyana.
“Wine itu ketinggian, kita nggak biasa minum wine. Bagaimana kalau jadi Frappuccino aja?”

Arggh!
Saya selalu suka kopi.
Frappuccino, Cappuccino, Latte, atau bahkan… A-ccino, B-ccino, Your-ccino, Him-ccino.

Kopi adalah minuman termanis yang membangkitkan pikiran.
Saya tidak melebihkan, tapi kopi selalu membuat hasrat saya melambung tinggi.
Kopi itu selalu menyegarkan hati dan pikiran, membuang jauh pikiran-pikiran galau seorang wanita di usia 26-an yang terganggu dengan pertanyaan-pertanyaan standar dan terasa janggal untuk seorang wanita karir yang sedang menempuh pendidikan S2. (pembelaan)
Kopi adalah sebuah pintu menuju dunia dimana Saya bisa sendiri.

Hanya saya, pikiran Saya, secangkir kopi, dan sebuah bibir lembut untuk menyeruput.

Saya ingin Frappuccino, bukan air putih.

– Bliss –

About sekarungcerita

5 orang dengan latar belakang yang berbeda tapi ternyata mempunyai kesamaan yang lumayan banyak
This entry was posted in Galau. Bookmark the permalink.

2 Responses to A Life and Frappuccino

  1. ALIF says:

    memang sebuah umur terkadang membuat kita canggung apalagi seorang wanita yg sudah ber-usia 26 Tahun dan belum mempunyai pasangan hidup …maka itu akan terasa seperti sayur tanpa bumbu / garam sehingga mengakibatkan rasa hambar bagi yg menikmatinya.

    Nice Blog… 🙂

  2. Why choosing ala carte if you can have buffet?

    Ini pasti blog anak labil yang sedang mencari jati diri ya..

    *kabooor

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s