Proses Kelahiran Xavier Danendra Aryanta

Yap, itulah nama yang saya dan istri saya berikan untuk anak kedua kami (putra pertama). Harapan kami atas nama itu akan menjadi doa agar dia menjadi anak yang pintar dan kaya.

Xavier berasal dari bahasa Arab yang artinya bright, pintar. Danendra berasal dari bahasa Sansekerta yang artinya Raja yang kaya raya. Sedangkan Aryanta adalah gabungan nama saya dan istri.

Xavier lahir pada tanggal 23 Juni 2011 pukul 12:49 dengan berat 4,250 kg dan panjang 54 cm di RS Premier Bintaro dengan Normal. Normal Yan? yes… normal🙂

Proses kelahiran Xavier sebetulnya agak di luar perkiraan saya. Awalnya saya mengira Xavier akan lahir di usia kandungan 38 minggu, namun hingga minggu 39 Xavier belum juga menunjukkan tanda-tanda akan lahir. Yang kami khawatirkan adalah beratnya yang diprediksi sudah berada di atas 4 kg, yang tentunya riskan bagi ibunya dan Xavier sendiri.

Atas saran dokter, akhirnya istri saya meminum obat kontraksi pada tanggal 22 malam sekitar jam 10. Dan walaaa… jam 3 pagi istri saya terbangun karena merasakan adanya kontraksi dan sakit pinggang. Istri saya belum membangunkan saya, tapi saya seperti setengah terbangun melihat dia mulai mondar mandir di kamar (tega bener loe yan…..).

Jam 4:30 istri saya memutuskan tuk mencoba tidur, dan sebelum tidur dia mau pipis dulu. Jdenggg… yang keluar ternyata bukan hanya pipis tapi juga tetesan (maaf) darah. Baru lah istri saya membangunkan saya yang langsung reflek berdiri (tumben). Karena ini adalah anak kedua, kami berusaha untuk tidak panik, istri saya pun, walau sudah mengeluarkan darah, tapi juga tetap mau mandi dulu. Katanya “biar dokter ganteng gak kebauan” yess, dokter yang akan menolong kelahiran anak kami memang ganteng, dokter Okky Oktafandhi namanya.

Ketika mandi beberapa kali istri saya kembali mengeluarkan darah, dan kami putuskan untuk mempercepat mandi dan segera ke Rumah Sakit. Sesampainya di Rumah Sakit, ternyata istri saya telah mencapai bukaan 2. Bukaan adalah seberapa besar mulut (maaf) v*agi*n*a membuka untuk jalur lahir bayi kami. Bukaan sempurna akan tercapai apabila telah mencapai bukaan 10. Hebatnya istri saya belum merasakan sakit yang cukup hebat. Sambil nonton televisi di ruang tindakan kami masih mengobrol santai.

Ketika pukul 9 (atau 10) istri saya mulai mengerang hebat menahan rasa sakit yang mulai tidak tertahankan. Karena sebelumnya kami sudah konfirmasi akan menggunakan ILA sebagai paint killer, istri saya mulai marah2 ke suster yang belum juga menyiapkan ILA-nya. Susternya memang tidak salah-salah betul sie, karena ILA baru disuntikkan ke tulang belakang ibu yang akan melahirkan apabila telah mencapai bukaan 4. Saya yang berusaha memberi semangat di dekat istri saya, mau tidak mau harus menahan pitingan seorang karateka bersabuk coklat (yess istri saya adalah karateka yang sudah berhenti latihan). Suster-suster yang bertugas pun mulai terlihat panik, dan alhamdulillah ada seorang dokter anestasi yang sedang bersiap melakukan operasi tidak jauh dari ruang tindakan segera menyuntikkan ILA ke Istri saya.

Setelah disuntik ILA itu, istri saya mulai bisa rileks, dan tidak berapa lama kemudian diperiksa sudah mencapai bukaan 7-8. Jam 11-an istri saya bisa saya suapi dengan bubur kacang hijau agar dia bisa bertenaga ketika harus mengejan. Jam 12 pun dia bisa makan siang dengan rileks. Ketika jam 12:15 ketuban istri saya pecah, darimana kami tahu itu adalah ketuban? karena saya cium baunya tidak pesing dan lebih kental. Saya segera melaporkannya ke suster-suster yang bertugas dan mereka pun segera memanggil dokter okky.

Proses kelahiran Xavier alhamdulillah cukup lancar. 2x hentakan ejanan Xavier sudah bisa keluar dan ternyata Xavier terlilit ari-ari sebanyak 2x. Kata orang-orang tua kalau bayi yang lahir terlilit ari-ari gedenya akan pantas pakai baju apa saja. Terbukti sama saya yang lahir terlilit juga (huekkkk narsis aja loe yan….). Saya sempat agak panik karena hampir 1 menit setelah lahir Xavier belum juga menangis, dokter sudah menggosok2 punggung Xavier dan selang oksigen sudah dimasukkan ke hidung dan mulut Xavier. Puji Tuhan Alhamdulillah tidak lama kemudian Xavier mulai menangis tanda bahwa dia bisa hidup. Dokter pun mempersilakan saya memotong ari-arinya. Kata orang-orang tua kalau Bapaknya yang memotong, maka anaknya akan nurut sama orang tua🙂.

Karena Xavier cukup besar untuk ukuran bayi, dia bernafas dengan susah payah hingga cuping hidung (hidungnya megap2). Tapi menurut dokter itu normal. Dokter mempersilakan saya merekam Xavier sementara dia mulai menjahit (dok… lebihin dikit ya) jalur lahirnya.

Puji syukur kami haturkan kepada gusti Allah yang telah memberikan semuanya kepada kami. Anak yang sehat, proses kelahiran yang lancar, dan segala berkat yang tidak terhitung jumlahnya.

Xavier Danendra Aryanta

Berikutnya saya akan menceritakan tentang kondisi Xavier yang bilirubinnya tinggi.

-Bierkof — IDX Building 28 Juni 2011-

 

 

About sekarungcerita

5 orang dengan latar belakang yang berbeda tapi ternyata mempunyai kesamaan yang lumayan banyak
This entry was posted in Cerpen. Bookmark the permalink.

One Response to Proses Kelahiran Xavier Danendra Aryanta

  1. Meliana says:

    Nice story and handsome boy. Mirip banget ama papinya. Semoga bilirubinnya cepat turun dan pulang ke rumah ya nak.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s