Beratnya bermanfaat bagi orang lain

Hai,

Setiap pagi berangkat ke kantor, gue selalu melihat ada seorang Bapak tua yang kelihatannya membawa gembolan dari karung plastik di pundaknya layaknya pemulung. Namun, gue gak pernah melihat bapak ini sedang memulung sampah, melainkan dia menengadahkan tangannya ke mobil-mobil yang melintasi jalan memutar di tanah kusir.

Beberapa kali gue lihat dia menerima pemberian dari para pengemudi mobil yang melintas. Dan beberapa kali pula gue lihat, setelah menerima pemberian itu, bapak itu melihat uang yang dia terima dengan pandangan “berapa nie?” sebelum dia masukkan ke dalam kantong baju atau celananya.

Semenjak kejadian itu, rasa kasihan gue sama dia hilang sehilang-hilangnya. Karena gue merasa dia tidak benar-benar susah sehingga masih menimbang-nimbang dalam menerima pemberian orang lain.

Beberapa bulan belakangan ini, jumlah peminta-minta di jalan itu bertambah dengan seorang laki-laki yang kelihatannya masih muda tapi (maaf) memiliki kelainan di kepalanya, dan 1 orang lak-laki lain yang juga masih muda tapi kelihatan stress karena sering terlihat tertawa-tawa sendiri. Tapi yang terakhir ini jarang terlihat, entah karena dia memang tidak benar-benar meminta-minta atau sebab lainnya.

Pagi ini mobil gue berjalan di belakang sebuah Honda Jazz RS putih yang masih terlihat sangat baru yang dikemudikan seorang pria muda. Kok gue tau pria muda? (ehem…) karena Honda Jazz putih itu tadinya berjalan di belakang mobil gue, dan pengemudinya terlihat dari spion tengah mobil gue. Singkat kata, pengemudi itu berjalan pelan ketika melewati bapak peminta-minta yang memiliki kelainan di kepalanya dan memberinya uang kertas (tidak keliatan pecahan berapa), dan dia kembali melaju. Tidak jauh setelah itu, dia kembali memelankan mobilnya untuk kemudian kembali memberikan uang kertas kepada Bapak tua, yang seperti gue lihat sebelum-sebelumnya, dia juga melihat uang pemberian pengemudi Honda Jazz itu.

Seharian ini, ditengah kesibukan kerja gue masih terus terbayang-bayang kejadian itu. Karena otak gue sudah tercuci dengan segala macam teori keuangan, maka semua hal gak pernah luput dari hitung-hitungan gue. Let say pengemudi tadi memberikan selembar uang kertas Rp 1.000 untuk Bapak pertama dan Rp 1.000 lagi untuk Bapak yang kedua, maka dia pagi itu sudah beramal sekitar Rp 2.000 untuk kedua Bapak itu. Kalau 1 bulan ada 20 hari kerja, maka dia akan mengeluarkan total sekitar Rp 40.000 dalam sebulan untuk kedua Bapak itu.

Besar? tidak!!! Rp 40.000 bisa gue habiskan dengan 1x makan di Kemchick dengan menu yang biasa saja. Tapi uang Rp 40.000 itu tentu sangat berarti buat kedua Bapak tadi. Lantas gue bertanya pada diri gue sendiri, apa karena gue tidak suka dengan kelakuan Bapak tadi maka gue berhak untuk tidak menyalurkan rejeki gue kepada mereka? Dan apa pernah sebelum gue melihat dia melakukan hal itu, gue memberinya uang? tidak juga!!

Lantas apa yang membuat gue berhak menghakimi bapak itu tidak benar-benar susah? Kalau dia tidak benar-benar susah, dia tidak akan merendahkan dirinya meminta-minta di jalanan. Merendahkan diri? ya karena gue gak akan pernah terbayang melakukannya karena alasan harga diri.

Sebuah pelajaran gue dapatkan hari ini, bahwa ternyata gue lebih gampang menghakimi orang lain, ketimbang berbuat sesuatu yang kelihatannya kecil tapi bermanfaat buat orang lain, walaupun cuma cukup untuk membeli segelas air putih non kemasan.

-bierkof-

About sekarungcerita

5 orang dengan latar belakang yang berbeda tapi ternyata mempunyai kesamaan yang lumayan banyak
This entry was posted in Galau. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s