Aku, aku dan aku

Saat ini aku sendiri. Seperti biasa. Aku, aku dan aku lagi. Tidak apa sebenarnya, hanya saja, semakin lama aku semakin merasa bahaya. Kesendirian ini terasa makin normal, makin tidak kupedulikan, makin tak perlu ku merasa untuk mengenyahkannya.
Rasanya hampa, seperti robot. Bangun, bekerja, pulang lagi. Selalu begitu. Hari yang sama. Tiba-tiba tanpa kusadari sudah seperempat abad lebih aku begini. Tanpa kemajuan yang berarti. Semakin terbiasa sendiri.
Jujur aku kehilangan gairah, kehilangan harapan.Rasanya kecil sekali kemungkinanku menemukan dia. Belahan jiwaku (yang katanya ada). Ah sudahlah, pikirku. Jodoh bagaikan lotere, mungkin hanya segelintir orang yag beruntung yang bisa mendapatkannya. Jangan dipikirkan, alihkan energimu ke tempat lain. Lupakan, lupakan, lupakan. Aku mengenyahkan dia jauh jauh dari pikiranku. Memendamnya rapat-rapat. Menguburnya dengan kesibukan. Melupakannya dengan mempunyai cita-cita lain, apa saja kujadikan cita-cita, kecuali yang satu itu. Ironisnya mereka biasanya tercapai, kecuali yang satu itu. Kecuali satu hal yang paling kuinginkan…
_Rei (040311)

About sekarungcerita

5 orang dengan latar belakang yang berbeda tapi ternyata mempunyai kesamaan yang lumayan banyak
This entry was posted in Cerpen. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s