Biga – Edisi 1

Siang itu seperti hari-hari biasanya Biga memulai harinya dengan mencuci mobil butut kesayangannya. Hari itu Biga harus ke kampus. Yep, Biga kembali meneruskan studinya ke jenjang S2. “Ijazah S1 sudah tidak laku” katanya tempo hari.

Kampus tempat Biga kuliah berada di sebuah kota yang sumpek dengan segala permasalahannya. Mulai dari macet, disiplin lalu lintas yang rendah, tingkat kriminal yang tinggi hingga polusi yang menyesakkan dada. Biga mengambil konsentrasi keuangan, karena Biga ingin seperti Pak Bud, senior sealmamaternya yang saat ini menjadi petinggi negara.

Handphone Biga bergetar ketika dia tengah mengeringkan kaca mobilnya. “Yep…. Kenapa? …. Ngga bisa, aku kan harus kuliah hari ini”. Biga menutup teleponnya setelah terdengar gerutuan di seberang sana. “Uh, kayak gak tau aja orang lagi sibuk kuliah” gumamnya sambil mulai memanaskan mesin mobilnya.

Handphone Biga kembali bergetar, kali ini sebuah pesan terpampang di layar handphonenya “Tapi nanti sore kita ketemu ya” yang dibalas dengan hanya “ya” oleh Biga.

\——\

Siang itu kelas Biga sedang membahas masalah Ekonomi Manajerial. Sesuatu yang sangat disukai oleh Biga. Entah benar-benar terobsesi dengan Pak Bud atau Biga memang menyukai mata kuliah itu. Hari itu Biga kedapatan mempresentasikan kenapa peranan Pemerintah diperlukan untuk menyeimbangkan pasar. Biga yang satu kelompok dengan Dini kelihatan sangat kompak. Entah kenapa kedua anak itu terlihat sangat akrab.

Dini adalah gadis yang manis, bertubuh tidak terlalu tinggi, berkulit sawo matang dengan bulu mata yang lentik. Wajar kalau Biga senang sekali dekat dengannya.

“Eh Ga, nanti abis selesai kuliah mau kemana?” tanya Dini. “Gak kemana-mana Din, cuma mau ketemu seseorang aja nanti sore” jawab Biga sambil makan pecel Surabaya sambil menunggu sesi kuliah berikutnya.

“Nonton aja yuk, bareng sama Tissa” ajak Dini. “Gak bisa Din… aku udah keburu janji sama orang itu”, jawab Biga malas-malasan sambil membolak balik pecel yang sedari tadi tidak dia makan.

“Oh ya sudah… eh gue duluan yak, belum selesai nie tugas paper gue” Dini ngeloyor pergi meninggalkan Biga sendirian.

Sambil mencoba untuk bisa menghabiskan pecelnya, Biga termenung seperti seniman mencari ide. Handphone Biga kembali bergetar, sebuah pesan terpampang di layar handphonenya “Nanti sore jangan lupa ya say….”. Pecel surabaya yang biasanya habis dalam 5 kali suapan sudah tidak tertelan lagi. Biga sudah malas membalas pesan itu.

“Dooorrr… ayam tetangga gue kemarin mati karena bengong…..” tiba-tiba Tissa sudah duduk di sebelah Biga. “Eh… kaget… resek ah….” Biga menoyor kepala Tissa.

“Sory…sory…. Maap ya pak…. Eh presentasi loe bagus tadi…..” ujar Tissa sambil menyeruput teh botol Biga. “Resek loe, udah ngagetin, teh botol gue disikat juga, eh btw tx buat pujiannya, hasil kerja bareng Dini juga tuh….” ujar Biga.

“Pacar loe dah kelar kuliah di Yogya Ga?” tanya Tissa. “Belum Sa… masih ada pendingan tugas akhir” jawab Biga.

“Wah kalo gitu ntar sore bisa dong kita nonton” ajak Tissa sambil kembali menyeruput teh botol Biga. “Bu, teh botol 1 lagi dong, punya saya bocor nie” pinta Biga kepada ibu penjual Pecel.

“Eh… eh maap hehehehehe” Tissa baru sadar kalo dia baru saja menghabiskan teh botol Biga.

“Oke… gak apa-apa, btw gue ntar sore gak bisa….. ada janji mau ketemu orang” jawab Biga.

“Siapa tuh? Dini ya? ciyeee Biga……” ledek Tissa sambil membuka plastik krupuk.

“Bukan…. bukan Dini…. Andaikata bisa pun gue maunya nonton bareng loe aja” ucap Biga tanpa beban.

“Janjian di mana sama temen loe itu Big?” tanya Tissa berusaha menyelidiki.

“Gak penting Ssa dimananya…… “ jawab Biga berusaha menyembunyikan sesuatu.

“Oh oke deh… eh yuk balik ke kelas, dah mau masuk nie….” Ajak Tissa “Yuk” Biga bergegas ke kasir.

\——\

“Saya coba tambahin presentasi kelompoknya Biga, yakni kenapa Pemerintah perlu ikut campur dalam mekanisme Pasar, karena Pasar kadang kala tidak mampu mengatasi failure yang terjadi, seperti adanya market power, externalities, public goods dan incomplete information. Oke, bahasan kita kali ini cukup sampai sekian, next kita ujian dari bab 10 sampai 16 ya” ucap Pak Leo dosen Ekonomi Manajerial sekaligus Direktur program S2 yang diikuti oleh Biga.

“Big… ayuk nonton….” Teriak Dini tepat setelah pak Leo meninggalkan kelas. Tissa yang duduk di sebelah Dini berusaha menyelidiki perubahan raut muka Biga.

“No tx Din… gue cabut dulu ya… gue ada janji…..”

“Ah payah nie…. Ya udah… kita aja yuk Tiss…. “ ucap Dini ke Tissa.

“Yuk… “ jawab Tissa meninggalkan kekecewaan karena gak jadi nonton bareng Biga.

Handphone Biga kembali bergetar… kali ini sebuah nama berkedip di layar handphonenya ….. “Tante Riri”

………………………………………..

(bersambung)

-bierkof-

About sekarungcerita

5 orang dengan latar belakang yang berbeda tapi ternyata mempunyai kesamaan yang lumayan banyak
This entry was posted in Cerpen. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s